Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2016

RADIKALISME AGAMA BUKANLAH JIHAD

RADIKALISME AGAMA BUKANLAH JIHAD
Oleh: Ust. Ahmad Fajar Inhad, Lc.



        Saat kita mendengar seseorang meneriakkan kalimat "Jihad" maka yang terbesit dalam benak kita adalah kekerasan, pemaksaan hak dan hal-hal yang cenderung negatif dan menyeramkan. Apalagi jika kalimat "Jihad" di barengi dengan teriakan takbir, saya yakin anda semua akan terbawa suasana horor dan adegan pertumpahan darah. Apakah memang demikian "Jihad" yang di ajarkan oleh Islam dan di praktekkan oleh Rasulullah SAW?, atau jangan-jangan "Jihad" sudah menjadi kamuflase sebagian oknum untuk menghancurkan Islam.

        "Jihad" adalah kalimat suci dan mulia dalam agama kita, bahkan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya menyebut bahwa "Jihad adalah puncak agama Islam". Sayangnya pemahaman sepotong-potong konsep Jihad "memaksa" asumsi kita untuk menarik kesimpulan bahwa "Jihad adalah melulu perang fisik". Padahal jika kita telaah lebih detail ayat-ayat al-Qur'an, ada beberapa ayat yang memerintahkan umat Islam untuk ber-Jihad saat mereka berada di Mekah. Dimana notabene umat Islam di Mekah kala itu adalah minoritas yang tertindas. Jadi, jika Jihad "hanya" di artikan perang fisik, maka pertanyaannya adalah "Mungkinkah Allah SWT memerintahkan minoritas umat Islam di Mekah untuk melakukan perlawanan fisik kepada musuhnya yang notabene adalah mayoritas?". Saya yakin anda sepakat bahwa upaya "Jihad fisik" itu adalah perbuatan ceroboh dan tindakan bunuh diri. Fakta ini bisa kita temukan pada firman Allah SWT dalam surat al-Furqan ayat 52 yang artinya "Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur'an dengan jihad yang besar". (TQS. al-Furqan : 52).


         Jika anda membuka buku-buku Tafsir, maka anda akan menemukan fakta bahwa ayat ini adalah Makkiyah (baca : ayat yang di turunkan sebelum nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah). Ayat ini menjelaskan kepada kita tentang konsep Jihad yang di lakukan oleh Rasulullah SAW saat beliau di Mekah. Konsep Jihad yang saya maksud adalah "Jihad dengan al-Qur'an". Apa itu "Jihad dengan al-Qur'an"?, adalah memerangi kebatilan dengan argumentasi yang bersumber dari wahyu Allah SWT yang tertuang dalam al-Qur'an, atau dengan bahasa yang lebih simpel di sebut dengan "Dakwah". Lalu kenapa Dakwah di kategorikan "Jihad yang besar"?, Dr. Wahbah Zuhaily dalam tafsir Munir-nya menjelaskan bahwa "Jihad menggunakan argumentasi yang bersumber dari ajaran al-Qur'an menghadapi orang-orang bodoh itu lebih mulia di bandingkan jihad dengan menggunakan pedang (baca : kekerasan)". Itulah embrio Jihad yang di praktekkan oleh Nabi Muhammad SAW selama berada di Mekah dan menjadi pondasi vital perkembangan Islam ke depan.

       Realita di atas senada dengan kandungan sebuah hadits Marfu' yang di riwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Sa'id al-Khudry, beliau Rasulullah SAW bersabda yang artinya "Sesungguhnya termasuk model Jihad yang paling agung adalah kalimat (argumentasi) adil (benar atau amar ma'ruf nahi munkar) yang di ucapkan di hadapan seorang pemimpin yang lalim".

        Dalam hadits ini beliau Rasulullah SAW tidak menggunakan kalimat pedang, perang fisik dan sinonim lainnya yang bertemakan kekerasan. Rasulullah SAW menggunakan redaksi "Kalimah" yang berarti ucapan atau argumentasi. Jika demikian lalu darimana konsep "Jihad adalah perang fisik" berasal?. Konsep ini berasal dari pemahaman "salah kaprah" tentang konsep Jihad pasca hijrah nabi ke Madinah. Kita semua tahu bahwa hampir seluruh perang fisik yang di lakoni oleh Rasulullah SAW terjadi pasca berdirinya negara Islam di Madinah (Hingga saat ini fenomena Negara Islam Madinah masih menjadi perdebatan di kalangan Ulama, ada sebagian yang berpendapat bahwa saat beliau nabi Muhammad SAW di Madinah beliau mendirikan Negara Islam, tetapi ada juga yang tidak sepaham  dan mengatakan Madinah bukan negara islam, tetapi Negara Sipil atau negara Madani atau Daulah Madaniyah).

        Tetapi tak jarang kita melupakan realita bahwa "Peperangan yang terjadi adalah dalam rangka melindungi kedaulatan negara yang di pimpin oleh Rasulullah SAW". Dengan bahasa yang lebih lugas kebijakan perang fisik di lakukan sebagai upaya defensif atau protektif bukan ofensif, karenanya sebuah kesalahan fatal jika "Jihad di artikan agresi atau invansi militer" ke negara-negara dengan mayoritas non muslim, atau bahkan negara berpenduduk Islam.

        Dalam sebuah potongan hadits riwayat Imam Ahmad (hadits nomor 18406) dari sahabat Nu'man bin Basyir RA, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa "Nubuwwah (kenabian) akan menjadi sistim (pemerintahan) kalian semua, kemudian sistim ini akan di angkat oleh Allah (berakhir) dan datang setelahnya sistim Khalifah yang menganut metode kenabian...".

     Hadits ini menjelaskan bahwa Khalifah (yang merupakan muara dari Jihad) dan cara untuk menggapainya haruslah sesuai dengan metode  kenabian (baca : Dakwah Islam) yaitu Hikmah (Bijaksana), dan Mujadalahbillati-Hiya-Ahsan (Dialog dengan mengedepankan argumen yang baik dan sesuai dengan kemampuan audiens). Lalu darimana "mereka" mendapat pemahaman bahwa "Jihad adalah perang fisik dan memerangi orang-orang tidak berideologi sama"?, saya khawatir ini adalah produk impor dari luar Islam yang bertujuan untuk menghancurkan umat Islam dari dalam tubuh umat Islam sendiri (Filosofi duri dalam daging).

      Indonesia dengan kemajemukannya menyimpan "bom waktu" yang bisa meledak sewaktu-waktu. Bom waktu yang saya maksud adalah banyaknya aliran penganut radikalisme agama. Meskipun keberadaan mereka menjadi ancaman, tetapi kita tidak boleh over reactive menyikapi mereka. Pemerintah dan masyarakat harus merumuskan cara efektif menanggulangi aliran radikal yang menyebar secara efektif di tengah masyarakat. Kita tidak boleh menjadi seperti "pemadam kebakaran", bereaksi ketika ada paham yang radikal. Karena reaksi "spontan" ini tidak akan menghilangkan akar permasalahan, harus ada aksi penanggulangan secara fundamental dan komprehensif.

       Salah satu aliran radikal yang saat ini menjadi isu hangat adalah IS (kepanjangan dari Islamic State atau negara Islam, yang merupakan metamorfosis dari ISIS). Jika kita meruntut sejarah pergerakan aliran radikal di Indonesia, maka kita akan menemukan kemiripan antara IS dengan gerakan-gerakan radikal yang sudah ada di Indonesia. Maka tidak salah jika di katakan "IS adalah old product new brand (produk lama dengan kemasan baru)". Berbagai pertemuan dan kebijakan di ambil untuk menghentikan penyebaran IS di Indonesia. Sayangnya, kebanyakan langkah yang di ambil cenderung bersifat statmen tentang bahaya dan ancaman gerakan ini bagi NKRI. Kita lupa bahwa cara yang demikian hanya akan membuat kita "kelelahan" berhadapan dengan mereka. Kenapa?, karena mereka punya kemampuan berkamuflase. Saat model yang ini gagal dan tidak di terima oleh publik, maka mereka akan melakukan modifikasi dan merubah chasing produk mereka. Jadi solusi yang tepat adalah dengan "tidak terfokus pada kemasan luar saja, tetapi harus menyentuh esensi gerakan ini".

      Upaya yang saya maksud adalah dengan mensosialisasikan gerakan "Islam Rahmat Bagi Seluruh Alam", melalui gerakan ini kita kenalkan soft power Islam, dan juga tidak lupa kita ajak masyarakat untuk memahami dan mengamalkan konteks Jihad secara aktual dan sesuai dengan perkembangan jaman. Simpelnya marilah kita lakukan upaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran beragama yang menyeluruh dalam diri masyarakat kita, sehingga mereka memiliki self defense (mampu bertahan sendiri tanpa harus menunggu fatwa dan larangan dari pihak terkait) sehingga tidak terjebak dalam permainan dan kamuflase musuh Islam.

Wallahu a'lam...


Senin, 18 Juli 2016

Kisah yang penuh hikmah dari KH. M.Arwani Amin Kudus


Sebuah kisah nyata yang dapat kita ambil hikmahnya datang dari seorang kyai Arwani (alm. Allahummaghfirullah).Beliau merupakan sosok kyai kharismatik yang terkenal dengan hafalan Qur’annya. Pesantren yang diasuhnya adalah Yanbuul Qur’an di Kudus, merupakan salah satu pesantren yang menjadi kiblat para hafidz dan hafidzah di Indonesia. Suatu hari, beliau bepergian bersama santrinya. Ketika beliau sampai di terminal Terboyo Semarang, tiba-tiba Kyai Arwani dicopet. Entah apakah beliau sudah tahu atau memang pura-pura tidak tahu. Yang jelas, beliau tidak memperdulikan jika baru saja beliau kecopetan. Santri yang mendampingi kyai Arwani sontak kaget dengan kejadian pencopetan itu, detik itu juga santrinya mengejar pencopet itu seraya meneriakinya. “Copeeet…!!! Copeet…!!!,” teriak si santri. Karena teriakan tersebut, suasana menjadi gaduh dan orang-orang yang ada di sekelilingnya juga ikut mengejar pencopetnya. Namun sayangnya, pencopet itu sungguh lincah dan sepertinya sudah menguasai medan hingga gagal untuk ditangkap. Para santri yang bersama beliau marah-marah kepada pencopet dengan ekspresi kecewa.

‘Berani-beraninya pencopet itu mengganggu kyai saya,’begitulah kira-kira pikir mereka. Si copet juga tidak lihat-lihat kalau yang dicopet adalah kyai.Dan betul, si copet tidak akan peduli tentang hal itu. Yang dipikirkan pencopet adalah bagaimana mendapat uang, uang dan uang. Bagi seorang copet, siapa saja yang pegang uang pasti akan dijadikan sasaran.

Yang mengherankan, Kyai Arwani tidak peduli dengan apa yang telah terjadi. Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya. Beliau bahkan tenang-tenang saja, hanya sibuk dengan dzikirnya. Melihat itu, si santri menghampiri dan memberi tahu kepada Kyainya bahwa baru saja ada copet yang telah mengambil dompetnya.

“Kyai,Njenengan baru saja kecopetan!,”kata santrinya dengan nada tergesa-gesa dan memberitahu.
“Oh, ya?,” jawab Kyai tenang-tenang saja.
“Benar, Kyai. Tapi kami gagal menangkapnya! Keterlaluan betul pencopet itu!”
“Alhamdulillah… Sudahlah kalian tidak perlu ribut-ribut. Saya bersyukur, yang dicopet itu saya!,” kata kyai 
masih dengan raut yang tenang.
“Apa maksudnya Kyai?,” tanya santri makin heran.
“Syukur… syukur… Alhamdulillah.Karena saya yang dicopet, bukan saya yang jadi pencopetnya!”
“Kok bisa begitu Kyai?” si santri bingung.
“Sekarang apa jawab kalian jika aku tanya, lebih baik mana, menjadi orang yang dicopet atau menjadi 
tukang copetnya?”

Jawaban Kyai sungguh benar, masuk akal. Nuansa zuhud dan kesufian tergambar dari ucapan-ucapan Kyai. Para santri yang menyertai beliau pada geleng-geleng kepala tanda paham dan takjub. Para santripun mendapat pelajaran berharga yang belum pernah mereka jumpai dalam teori.

Ternyata, dalam musibahpun dapat timbul rasa syukur, seperti yang sudah dicontohkan Kyai Arwani. Kisah nyata ini sungguh membuat kita tersenyum dan juga mendapat banyak hikmah di dalamnya. Subhanallaah… Betapa bersyukur itu tidak hanya ketika kita mendapatkan sesuatu. Namun, seperti yang telah dicontohkan Kyai Arwani di atas bahwa bersyukur pun dapat dilakukan ketika kita kehilangan sesuatu.

Semoga dengan ini, kita dapat menjadi manusia yang zuhud dengan selalu ingat bahwa semuanya adalah dari Allah SWT dan pada akhirnya juga akan kembali pada Allah SWT. Akhirnya, Semoga bermanfaat.

Sumber: kabarmakkah.com  

Minggu, 19 Juni 2016

Rasulullah mencintai bangsa Indonesia

Tatkala salah satu guru Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan Al-'Allamah al-'Arif billah Syaikh Utsman bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke makam Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah SWT dapat berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Di belakang Nabi Muhammad SAW sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu:

 “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?” 

Rasulullah SAW pun menjawab:

 “Mereka adalah umatku yang sangat aku cintai.”

Dan di antara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: 

Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?

Rasulullah SAW kemudian menjawab: 

Mereka adalah bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.
Akhirnya, guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jama’ah:
Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.”
Bukti kecintaan as-Sayyid Muhammad al-Maliki kepada orang Indonesia adalah dengan membangunkan pesantren khusus untuk orang Indonesia di Makkah. Dan beliau sangat senang dan bahagia apabila ada orang/ulama Indonesia yang menyempatkan bersilaturrahim di rumahnya. 

Bahkan beliau sering memberikan buah tangan (hadiah) kepada orang/ulama Indonesia yang bersilaturrahim tersebut. 

(Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).

Jumat, 17 Juni 2016

Jumlah rakaat Sholat Tarawih menurut Imam 4 Madzhab


Menurut pendapat jumhur ulama yaitu mazhab Hanafi, Syafi’e dan Hanbali, shalat sunnah Tarawih itu ada 20 raka’at (selain shalat witir). Ini berdasarkan ijtihad Sayyidina Umar bin Khattab. 

Menurut mazhab Maliki justru malah ada 36 rakaat, atas dasar ijtihad Khalifah Umar bin Abd al-Aziz. Imam Malik dalam beberapa riwayat memfatwakan 39 raka’at (Lihat dalam Nail al-Author, 3/289). Walau begitu, pendapat yang masyhur ialah pendapat jumhur, yakni 20 rakaat. Bahkan Ibnu Taymiyah juga mengikuti pendapat jumhur ini. Berikut rincian pendapat imam madzhab empat tentang tarawih: 
.
1) Mazhab Hanafi

Syaikh As-Sarakhsi menyebutkan:

إِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِندَنَا، وَقَالَ مَالِكٌ: اَلسُّنَّةُ فِيهَا سِتَّةٌ وَثَلاَثونَ

“Sesungguhnya ia (Tarawih) 20 rakaat selain Witir di sisi kami, dan Malik berkata: sunnah padanya 36 rakaat.”(Al-Mabsuth, As-Sarakhsi, 2/144). 

Syaikh Al-Kasani mendukung pendapat tersebut dengan mengatakan:

وَأَمَّا قَدْرُهَا فَعِشْرُونَ رَكْعَةً فِي عَشَرِ تَسْلِيمَاتٍ، فِي خَمْسِ تَروِيحَاتٍ، كُلُّ تَسْلِيمَتَيْنِ تَرْوِيحَةٌ، وَهَذَا قَوْلُ عَامَّةِ الْعُلمَاءِ

“Dan adapun kadarnya maka (ia adalah) 20 rakaat dalam 10 kali salam, 5 kali rehat, setiap 2 kali salam ada 1 rehat. Dan inilah pendapat kebanyakan ulama.”(Bada’i’ ash-Shana’i’, Al-Kasani, 1/288).

Pendapat ini didukung pula oleh Al-Allamah Ibn Abidin di dalam Hasyiahnya:

قَوْلُهُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ، وَعَلَيْهِ عَمَلَ النَّاسُ شَرْقًا وَغَرْبًا

“(Perkataannya: dan ia 20 rakaat) adalah pendapat jumhur, dan atas pendapat inilah orang banyak beramal di Timur dan Barat.” (Radd al-Mukhtar ‘ala Ad-Durr al-Mukhtar yang lebih dikenal dengan Hasyiah Ibn Abidin, 2/46).
.
2) Mazhab Maliki 

Apa yang masyhur dalam mazhab Maliki ialah pendapat yang mengikut jumhur (yaitu 20 rakaat). Al-Allamah Ad-Dardir berkata:

(وَالتَّرَاوِيحُ ): بِرَمَضَانَ (وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً) بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ، يُسَلِّمُ مِن كُلِّ رَكْعَتَيْنِ غَيْرَ الشَّفع وَالْوِتْرِ. (وَ) نَدِبَ (الْخَتْمُ فِيهَا): أَيْ اَلتَّرَاوِيحِ، بِأَن يَقْرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا يُفَرِّقُهُ عَلَى الْعِشْرِينَ رَكْعَةً.

“(Dan Tarawih): pada bulan Ramadhan (yaitu 20 rakaat) selepas Sholat Isya’, salam pada setiap 2 rakaat selain…. Dan Witir. (Dan) Sunat (mengkhatamkan Al-Quran dalamnya): iaitu ketika Tarawih dengan cara membaca satu juzu’ pada setiap malam yang dibahagi-bahagi dalam 20 rakaat.” (Asy-Syarh ash-Shaghir, Ad-Dardir, di tepinya ada Hasyiah Al-Allamah Ash-Shawi, 1/404-405). 

Al-Allamah An-Nafrawi menyebutkan pendapat yang menguatkan pendapat jumhur ulama’ (20 rakaat) dan pengikut mazhab Maliki kembali kepada pendapat ini karena ia adalah salah satu pendapat Imam Malik sendiri. Ia berkata:

(كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ) وَهُمُ الصَّحَابَةُ (يَقُومُونَ فِيهِ) فِي زَمَنِ خِلاَفَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ. وَبِأَمْرِهِ كَمَا تَقَدَّمَ (فِي الْمَسَاجِدَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً) وَهُوَ اِخْتِيَارُ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ. وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ اْلآنَ فِي سَائِرِ اْلأَمْصَارِ. (ثُمَّ) بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشْرِينَ ( يُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ) مِن بَابِ تَغْلِيبِ اْلأَشْرَفِ لاَ أَنَّ الثَّلاَثَ وِتْرٌ، لأَنَّ الْوِتْرَ رَكْعَةٌ وَاحدَةٌ كَمَا مَرَّ، – إِلَى أَن قَالَ – وَاسْتَمَرَّ عَمَلَ النَّاسُ عَلَى الثَّلاَثَةِ وَالْعِشْرِينَ شَرْقًا وَغَرْبًا. (ثُمَّ) بَعْدَ وَقَعَةِ الْحَرَّةِ بِالْمَدِينَةِ (صَلُّوا) أَيْ اَلسَّلَفُ الصَّالِحُ غَيْرَ الَّذينَ تَقَدَّمُوا، لأَنَّ الْمُرَادَ بِهمْ هُنَا مَن كَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ (بَعْدَ ذَلِكَ) اَلْعَدَدُ الَّذِي كَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ (سِتًّا وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ) – إِلَى أَن قَالَ – : وَهَذَا اِخْتَارَهُ مَالِكٌ فِي الْمُدَوَّنَةِ وَاسْتَحْسَنَهُ. وَعَلَيْهِ عَمَلَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ. وَرَجَحَ بَعْضُ أَتْبَاعِهِ اَلأَوَّلَ الَّذِي جَمَعَ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ النَّاسَ عَلَيْهَا لاِسْتِمْرَارِ الْعَمَلِ فِي جَمِيعِ اْلأَمْصَارِ عَلَيْهِ.

“Adalah Salafus Soleh) iaitu para sahabat (mendirikan padanya) yaitu pada zaman kekhalifahan Umar bin Al-Khattab. Dan dengan arahannya seperti yang disebutkan terdahulu (untuk mendirikannya) (di masjid-masjid dengan 20 rakaat) yaitulah pendapat yang dipilih oleh Abu Hanifah, Syafi’e dan Ahmad, dan itulah yang diamalkan sekarang di seluruh tempat. (Kemudian) selepas sholat 20 rakaat (mereka mendirikan Witir dengan 3 rakaat) yaitu termasuk dalam bab melebihkan, bukanlah 3 rakaat itu dinamakan Witir, karena Witir itu 1 rakaat saja seperti yang telah dijelaskan…-sehinggal kepada perkataannya- Dan berterusanlah perbuatan orang ramai dengan 23 rakaat ini, di timur dan barat. (Kemudian) selepas berlakunya kemarau di Madinah (mereka sembahyang) yaitu ‘Salafus Soleh’ bersembahyang tidak seperti yang mereka telah dilakukan. Yang dimaksudkan ‘Salafus Soleh’ di sini ialah mereka yang berada pada masa Umar bin Abdul Aziz (selepas itu) (tidak seperti) bilangan yang telah dilakukan pada masa Umar bin Al-Khattab (yaitu dalam masa Umar bin Abdul Aziz, mereka melakukannya dengan) (36 rakaat tidak termasuk genap dan Witir) – sehinggalah kepada perkataannya-: Dan inilah yang dipilih oleh Imam Malik di dalam mudawwanah dan dia menganggap ia adalah baik (iaitu 36 rakaat itu). Dan pendapat ini menjadi pegangan penduduk Madinah. Dan sebahagian pengikut Imam Malik pendapat pertama (yaitu 20 rakaat) yang mana Umar bin Al-Khattab telah mengumpul orang ramai dengan bilangan ini agar amalan ini berterusan dilakukan di seluruh tempat.” (Al-Fawakih ad-Dawani, An-Nafrawi, 1/318-319). 

3) Mazhab Syafi’i
Para ulama’ dalam mazhab Syafi’i (Syafi’iyyah) mengistinbatkan bilangan rakaat tarawih seperti dalam beberapa qaul berikut:

1) Disebutkan di dalam Mukhtashar Al-Muzani:

أَنَّ اْلإِمَامَ الشَّافِعِيَّ رحمه الله قَالَ: رَأَيْتُهُمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِينَ وَأَحَبَّ إِلَيَّ عِشْرُونَ لأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَكَذَلِكَ بِمَكَّةَ يَقُومُونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.

“Sesungguhnya Imam Syafi’i berkata: Aku telah melihat mereka di Madinah mendirikan (Solat Tarawih) dengan 39 rakaat, dan aku menyukai 20 rakaat karena telah diriwayatkan dari Umar. Dan begitu juga di Makkah, mereka mendirikan 20 rakaat dan mengerjakan Witir dengan 3 rakaat.”

2) Imam Nawawi berkata di dalam Syarh al-Muhazzab:
صَلاَةُ التَّرَاوِيحِ مِنَ النَّوَافِلِ الْمُؤَكَّدَةِ كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ اْلأَحَادِيثُ الشَّرِيفَةُ الْمُتَقَدِّمَةُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ صَلاَةِ الْوِتْرِ، وَمَعَ الْوِتْرِ تُصْبِحُ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً … عَلَى ذَلِكَ مَضَتِ السُّنَّةُ وَاتَّفَقَتِ اْلأُمَّةُ، سَلَفًا وَخَلَفًا مِنْ عَهْدِ الْخَلِيفَةِ الرَّاشِدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه وأرضاه – إِلىَ زَمَانِنَا هَذَا … لَمْ يُخَالِفْ فِي ذَلِكَ فَقِيهٌ مِنَ اْلاَئِمَّةِ اْلأَرْبعَةِ الْمُجْتَهِدِينَ إِلاَّ مَا رُوِىَ عَنْ إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ مَالِكٍ بْنِ أَنَسٍ رضي الله عنه اَلْقَوْلُ بِالزِّيَادَةِ فِيهَا، إِلىَ سِتٍّ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً…فِي الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ عَنْهُ – مُحْتَجًّا بِعَمَلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فَقَدْ رُوِيَ عَن نَافِعٍ أَنَّهُ قَالَ: أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُومُونَ رَمَضَانَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ مِنْهَا بِثَلاَثٍ

“Shalat Tarawih termasuk di dalam sholat Nawafil yang muakkad seperti mana yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yang mulia yang telah disebut terdahulu. Ia adalah sebanyak dua puluh rakaat selain dari sholat Witir. (Jika) bersama Witir maka ia menjadi 23 rakaat…atas jalan inilah berlalunya sunnah dan sepakat ummah, dari kalangan Salaf dan Khalaf dari zaman Khulafa’ ar-Rasyidin Umar ibn Al-Khattab, semoga Allah meridhainya dan dia meridhaiNya juga sampailah ke zaman kita ini…Tidak ada seorang pun ahli fiqih dari kalangan empat imam mazhab (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah) membantah perkara ini, melainkan apa yang diriwayatkan dari Imam Dar al-Hijrah, Imam Malik bin Anas tentang pendapat yang lebih bilangannya pada sholat Tarawih kepada 36 rakaat…Dalam riwayat kedua daripada Imam Malik, yaitu dengan hujahnya beramal dengan amalan penduduk Madinah iaitu: Sesungguhnya diriwayatkan dari Nafi’ sesungguhnya dia berkata: Aku mendapati banyak orang mendirikan Ramadhan (sholat Tarawih) dengan 39 rakaat dan mereka mendirikan Witir daripadanya sebanyak 3 rakaat…”
.
4) Mazhab Hanbali 

Al-Allamah Ibn Qudamah al-Maqdisi berkata:

وَالْمُخْتَارُ عِندَ أَبِي عَبْدِ اللهِ فِيهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً. وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ. وَقَالَ مَالِكٌ: سِتَّةُ وَثَلاَثُونَ. وَزَعَمَ أَنَّهُ اْلأَمْرَ الْقَدِيمَ، وَتَعَلَّقَ بِفِعْلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، فَإِنَّ صَالِحًا مَوْلَى التَّوْأَمَةَ قَالَ: أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُومُونَ بِإِحْدَى وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ منْهَا بِخَمْسٍ.

“Dan (pendapat) yang dipilih di sisi Abu Abdullah (gelaran kepada Imam Ahmad bin Hanbal) padanya 20 rakaat. Dan inilah juga pendapat Sufyan Ath-Thuri, Abu Hanifah dan Syafi’e. Malik berkata: 36 (rakaat). Beliau mendakwa ia adalah perkara yang lama dan menghubungkan pendapatnya dengan perbuatan penduduk Madinah. Soleh maula kepada At-Tau’amah berkata: Aku mendapati orang ramai mendirikan (Sholat Tarawih) sebanyak 40 rakaat dan melakukan Sholat Witir 5 rakaat.”(Al-Mughni, 1/456).

Al-Allamah Al-Bahuti menukilkan pendapat yang dipegang dalam mazhab Hanbali dengan mengatakan:

سُمِيَتْ بِذَلِكَ لأَنَّهُمْ يَجْلِسُونَ بَيْنَ كُلِّ أَرْبَعَ يَسْتَرِيحُونَ، وَقِيلَ مَشَقَّةٌ مِنَ الْمَرَاوَحَةِ وَهِيَ التِّكْرَارُ فِي الْفِعْلِ، وَهِيَ (عِشْرُونَ رَكْعَةً فِي رَمَضَانَ) لِمَا رَوَى مَالِكٌ، عَن يَزِيدٍ بْنِ رُومَانَ، قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ.

“Dinamakan begitu kerana mereka duduk di antara setiap 4 rakaat berehat. Dan dikatakan, kesusahan dari…. yaitu pengulangan pada perbuatan yaitu (20 rakaat pda bulan Ramadhan) mengikut apa yang diriwayatkan oleh Malik dari Yazid bin Ruman berkata: “Adalah manusia mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar pada bulan Ramadhan dengan dua puluh tiga rakaat.” (Riwayat Malik dalam Al-Muwaththo’, lihat Kasysyaf al-Qina’, Al-Bahuti, 1/425).
Pendapat Syaikh Ibn Taimiyyah dan Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd al-Wahhab, Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni menyebutkan:
Syaikh Ibn Taimiyyah menyebutkan di dalam Al-Fatawa:

ثَبَتَ أَنَّ أُبَي بْنِ كَعْبٍ، كَانَ يَقُومُ بِالنَّاسِ عِشْرِينَ رَكْعَةً فِي رَمَضَانَ وَيُوَتِّرُ بِثَلاَثٍ فَرَأَى كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ لأَنَّهُ قَامَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلاَنصَارِ وَلَمْ يُنكِرُهُ مُنكِرٌ.

“Telah thabit sesungguhnya Ubay ibn Ka’ab telah mendirikan (sholat Tarawih) bersama mayoritas jama’ah sebanyak 20 rakaat pada bulan Ramadhan dan dia sholat Witir dengan 3 rakaat. Maka banyak orang melihat perbuatan itu adalah sebagai sunnah karena bahwasanya dia mendirikannya di antara sahabat dari Muhajirin dan Anshar dan tidak ada seorangpun yang mencegahnya.”
Adapun bagi mereka yang menjalankan tarawih 11 raka’at dengan nash hadist..

أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِن جَوْفِ اللَّيلِ لَيَالِي مِن رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثُ مُتَفَرِّقَةٌ: لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ، وَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيهَا، وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، وَيُكَمِّلُونَ بَاقِيهَا فِي بُيُوتِهمْ

“Rasulullah SAW keluar untuk sholat malam di bulan Ramadhan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk sholat bersama umat di masjid. Rasulullah SAW shalat bersama mereka sebanyak delapan rakaat, dan kemudian mereka menyempurnakan baki sholatnya di rumah masing-masing.”

Jumlah 11 rakaat tidak boleh dijadikan hujah untuk jumlah rakaat Sholat Tarawih karena Rasulullah SAW hanya sholat berjamaah bersama sahabat 2 atau 3 kali saja di masjid dan setelah itu Baginda Nabi SAW dan para sahabat menyambung sholat malam di rumah masing-masing.

Hadits shalat Tarawih hanya 8 rakaat (menjadi 11 rakaat termasuk 3 rakaat Witir) karena merujuk kepada hadits dari Sayyidatuna ‘Aisyah:

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوْتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.

“Tidaklah Rasulullah SAW menambah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya lebih sebelas rakaat. Baginda SAW sembahyang empat rakaat dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Baginda SAW sembahyang empat rakaat dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Baginda SAW sembahyang tiga rakaat. Kemudian aku (‘Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum sembahyang Witir?” Baginda SAW bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur.”

Untuk menjelaskan itu, K.H. Siradjuddin Abbas berkata: “Sembahyang yang dikatakan oleh Ummul Mu’minin Siti ‘Aisyah yang bahwa Nabi Muhammad SAW tidak lebih dari mengerjakannya dari 11 rakaat itu ialah sembahyang Tahajjud malam hari dan Witir di belakangnya, bukan sembahyang Tarawih…”. (Dalam bukunya 40 Masalah Agama, 1/324)

KH Siradjuddin Abbas menyebutkan ketika Imam Bukhari ketika meletakkan hadits ‘Aisyah ini di dalam Shahihnya, ia menulis begini:

بَابُ قِيَامِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ

“Bab pada menyatakan Qiyam Nabi SAW pada waktu malam pada bulan Ramadhan dan pada bulan selainnya.”

Oleh KH Siradjuddin Abbas, hal itu dikomentari demikian: “Ini petunjuk bahwa Imam Bukhari juga berpendapat bahwa sembahyang ini bukan Sembahyang Tarawih, tetapi Sembahyang Tahajjud Malam yang dikerjakan dalam bulan Ramadhan dan luar Ramadhan. Sedangkan shalat sunnah yang dikerjakan dimalam hari adalah 2 raka’at-2 raka’at sebagaimana hadist rasul saw :

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنىَ مَثْنىَ

“Sholat malam itu dilakukan dua rakaat dua rakaat.” Riwayat Al-Bukhari.

Pertanyaan besarnya, mengikuti pendapat siapakah orang-orang yang menjalankan rakaat tarawih hanya dengan 8 rakaat plus 3 rakaat witir?

Minggu, 12 Juni 2016

Dalil naqli dan pendapat para ulama tentang Tahlil

Hukum Tahlilan - Dalil tahlilan Jumlah Hari 3, 7, 25, 40, 100, 360 (setahun) & 1000 hari dari kitab Ahlusunnah (bukan kitab dari Agama Hindu). Silakan baca lebih lanjut.

قال النبي صلى الله عليه وسلم الدعاء والصدقة هدية إلى الموتى
وقال عمر : الصدقة بعد الدفنى ثوابها إلى ثلاثة أيام والصدقة فى ثلاثة أيام يبقى ثوابها إلى سبعة أيام والصدقة يوم السابع يبقى ثوابها إلى خمس وعشرين يوما ومن الخمس وعشرين إلى أربعين يوما ومن الأربعين إلى مائة ومن المائة إلى سنة ومن السنة إلى ألف عام

Rasulullah saw bersabda: "Doa dan shodaqoh yang dihadiahkan kepada mayyit." Umar berkata: "Shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari."

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan?

Berkumpul mengirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

فلما احتضرعمر أمر صهيبا أن يصلي بالناس ثلاثة أيام ، وأمر أن يجعل للناس طعام
، فيطعموا حتى يستخلفوا إنسانا ، فلما رجعوا من الجنازة جئ بالطعام ووضعت الموائد
! فأمسك الناس عنها للحزن الذي هم فيه ، فقال العباس بن عبد المطلب : أيها الناس
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قد مات فأكلنا بعده وشربنا ومات أبو بكر فأكلنا بعده
وشربنا وإنه لابد من الاجل فكلوا من هذا الطعام ، ثم مد العباس يده فأكل ومد الناس
أيديهم فأكلوا

Ketika Umar akan wafat, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama tiga hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan – hidangan disuguhkan, orang-orang tak mau makan karena sedih. Lalu Abbas bin Abdulmuttalib mengucap ini:

"Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang – orang pun mengulurkan tangannya masing - masing dan makan."


[Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul Ummaal fi Sunanil Aqwaal wal Af’al Juz 13 hlm 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wat Taarikh Juz 1 hal 110]


Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

قال طاووس : ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنهم تلك الايام

Imam Thawus berkata: "Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut."

عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق, فاما المؤمن فيفتن سبعا واماالمنافق فيفتن اربعين صباحا

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: "Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari."

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 Surat aN-Najm (IV/236: Dar el Quthb). Ia mengatakan Imam Syafi'i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir-akhir beliau berkomentar lagi:

فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما ومنصوص من الشارع عليهما

Bacaan Al-Quran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai. Menurut Imam Syafi'i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bcaan al-Quran tidak sampai ke mayit.

Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan Al-Quran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa "Allahumma awshil....dst.". Lalu murid beliau, Imam Ahmad dan kumpulan murid-murid Imam Syafi'i yang lain berfatwa bahwa bacaan Al-Quran sampai.

Pandangan Hanabilah
Syaikhul Islam Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibn Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:
اَمَّا الصَّدَقَةُ عَنِ الْمَيِّتِ فَـِانَّهُ يَنْـتَـفِعُ بِهَا بِاتِّـفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَقَدْ وَرَدَتْ بِذٰلِكَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَحَا دِيْثُ صَحِيْحَةٌ مِثْلُ قَوْلِ سَعْدٍ ( يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِّيْ اُفْتـُلِتـَتْ نَفْسُهَا وَاَرَاهَا لَوْ تَـكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ يَنْـفَـعُهَا اَنْ اَتَـصَدَّقَ عَنْهَا ؟ فَقَالَ: نَـعَمْ , وَكَذٰلِكَ يَـنْـفَـعُهُ الْحَجُّ عَنْهُ وَاْلاُ ضْحِيَةُ عَنْهُ وَالْعِتْقُ عَنْهُ وَالدُّعَاءُ وَاْلاِسْتِـْغفَارُ لَهُ بِلاَ نِزاَعٍ بَيْنَ اْلأَئِمَّةِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”. (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan Al-Qur’an kepada mayit:

فَاِذَا اُهْدِيَ لِمَيِّتٍ ثَوَابُ صِياَمٍ اَوْ صَلاَةٍ اَوْ قِرَئَةٍ جَازَ ذَلِكَ

Artinya: “Jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (Al-Qur’an/kalimah thayyibah), maka hukumnya diperbolehkan”. (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322).

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

يُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـمْكُثَ عَلىَ اْلقَبْرِ بَعْدَ الدُّفْنِ سَاعَـةً يَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ وَيَسْتَغْفِرُلَهُ. نَـصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ قَالوُا: يُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَـقْرَأَ عِنْدَهُ شَيْئٌ مِنَ اْلقُرْأَنِ وَاِنْ خَتَمُوْا اْلقُرْأَنَ كَانَ اَفْضَلُ . (المجموع جز ٥ ص ٢٥٨)

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”. Pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat Al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengkhatamkan Al-Qur’an”. 

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

وَيُـسْـتَحَبُّ لِلزَّائِرِ اَنْ يُسَلِّمَ عَلىَ اْلمَقَابِرِ وَيَدْعُوْ لِمَنْ يَزُوْرُهُ وَلِجَمِيْعِ اَهْلِ اْلمَقْبَرَةِ. وَاْلاَفْضَلُ اَنْ يَكُوْنَ السَّلاَمُ وَالدُّعَاءُ بِمَا ثَبـَتَ مِنَ اْلحَدِيْثِ وَيُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَقْرَأَ مِنَ اْلقُرْأٰنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوْ لَهُمْ عَقِبَهَا وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّاِفعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ. (المجموع جز 5 ص 258)

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur. Salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal:

قَالَ: وَلاَ بَأْسَ بِالْقِراَءَةِ عِنْدَ اْلقَبْرِ . وَقَدْ رُوِيَ عَنْ اَحْمَدَ اَنَّـهُ قَالَ: اِذاَ دَخَلْتمُ الْمَقَابِرَ اِقْرَئُوْا اَيـَةَ اْلكُـْرسِىِّ ثَلاَثَ مِرَارٍ وَقُلْ هُوَ الله ُاَحَدٌ ثُمَّ قُلْ اَللَّهُمَّ اِنَّ فَضْلَهُ ِلأَهْلِ الْمَقَابِرِ .

Artinya: “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat Al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur." (al-Mughny II/566). 

Dalam al-Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

وَذَهَبَ اَحْمَدُ ْبنُ حَنْبَلٍ وَجَمَاعَةٌ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ اَصْحَابِ الشَّاِفـِعى اِلىَ اَنـَّهُ يَـصِلُ . فَاْلاِ خْتِـيَارُ اَنْ يَـقُوْلَ الْقَارِئُ بَعْدَ فِرَاغِهِ: اَللََّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ . وَالله ُاَعْلَمُ

Artinya: Imam Ahmad bin Hambal dan golongan ulama’ dan sebagian dari sahabat Syafi’i menyatakan bahwa pahala do’a adalah sampai kepada mayit. Dan menurut pendapat yang terpilih: “Hendaknya orang yang membaca al-Qur’an setelah selesai untuk mengiringi bacaannya dengan do’a:

اَللََّهُمَّ اَوْصِلْ ثَـوَابَ مَا قَـرأْ تـُهُ اِلَى فُلاَنٍ

Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan al-Qur’an yang telah aku baca kepada si fulan (mayit)”. (al-Adzkar al-Nawawi hlm. 150)

Wallahul muwaffiq.



Senin, 16 Mei 2016

Peresmian kantor Pengurus Ranting NU Tahunan


Alhamdulilllah, segala puji hanya milik Allah SWT.. kini Pengurus Ranting NU desa Tahunan telah memiliki kantor sebagai sarana ruang kerja bagi para pengurus maupun sebagai tempat informasi yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan dan juga kemaslahatan umat khususnya di wilayah ranting desa Tahunan.

Berkat dukungan dari para warga sekitar, akhirnya Kantor ranting NU desa Tahunan ini di resmikan pada malam senin legi atau bertepatan dengan tanggal 15 mei april 2016, yang mana lokasinya beralamatkan di Jl. Soekarno Hatta Rt 04 Rw 03 dukuh Kauman Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, meskipun kantor berukuran kecil namun kami berharap semoga dapat menjadikan manfaat yang sangat besar khususnya bagi umat Nahdliyin di wilayah Ranting desa Tahunan.

Acara peresmian pun di isi dengan kegiatan-kegiatan positif ala NU yakni di buka dengan sholawatan yang di iringi oleh grup hadroh JM3 (Jamiyah Masjid Masyarul Mujahidin), kemudian di lanjutkan dengan pembacaan tahlil lalu manakib syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, lalu di tutup dengan doa kemudian sambutan-sambutan dari para petinggi Ranting, kemudian barulah makan-makan bersama.

Di antara beberapa sambutan-sambutannya, rois suriyah ranting NU ustad Nur Handy menghimbau agar kaum Nahdliyin tetap memegang teguh prinsip-prinsip aqidah ulama'-ulama' kita terdahulu, jangan sampai terpengaruh oleh aliran-aliran baru yang membawa prinsip aqidah yang baru yang keluar dari jalur Ahlussunnah Wal Jama'ah, dalam tausiyah nya beliau juga mengingatkan bahwa nabi Muhammad SAW tetap memakai ajaran-ajaran yang di pakai nabi-nabi sebelumnya, yang kemudian di sempurnakan atas petunjuk Allah SWT, beliau tidak membuang ajaran-ajaran para nabi sebelumnya begitu saja.


Dan dengan adanya kantor Ranting ini di harapkan agar para pengurus bertambah serius dan dapat memaksimalkan kinerja sesuai dengan tugas-tugasnya dalam lembaga masing-masing.



Jumat, 22 April 2016

Haul massal MWC NU Tahunan


Dalam rangka Harlah ke-93, MWC NU Kecamatan Tahunan yang mencakup 17 ranting NU mengadakan acara Haul massal yang mana ranting NU desa Tahunan terpilih menjadi tuan rumah, dan acara ini di selenggarakan di gedung MWC NU Tahunan yang berada di area kampus UNISNU pada jam 1 siang hingga selesai.

Pada kegiatan haul massal ini, mencakup para arwah dari warga Nahdliyin khususnya warga di Kecamatan Tahunan, yang mana para jamaah yang ingin mendaftarkan arwah keluarganya di wajib kan membayar uang sebesar Rp 2.500-, per arwah, dan para warga sangat antusias dengan acara haul massal yang di adakan pada tanggal 22 april 2016 ini, hal ini terbukti dengan terdaftarnya arwah yang mencapai 2000 lebih yang terkumpul di ranting tahunan, belum lagi dari ranting-ranting yang lainnya yang khususnya di kecamatan Tahunan.

Acara ini di hadiri oleh para Pengurus Cabang NU yang di antaranya yang bisa kami sebutkan adalah beliau K.H. Ubaidillah selaku ketua syuriyah cabang Jepara, Bp. Ulul Absor (lulu') selaku sekretaris tanfidz PCNU, H.Mohammad  Ahris selaku wakil ketua ISHARI NU, kemudian perwakilan dari setiap Ranting NU yang ada di Kecamatan Tahunan, lalu para Kyai dan warga sekitar.

Semoga acara seperti ini terus berkelanjutan demi menjaga silaturrohmi kepada para Nahdliyin dan juga untuk semakin memperkuat antusiasme warga terhadap Nahdlatul Ulama', karena "negara ini akan hancur jika NU tidak ada" kata K.H. Ubaidillah dalam mauidhoh nya.

Rabu, 20 April 2016

Hasil rapat malam rabu kliwon

Berita dari Ranting NU desa Tahunan kali ini adalah hasil yang di dapatkan dari agenda rapat yang selalu di laksanakan pada malam rabu kliwon, yang mana bertujuan untuk membangun silaturohmi dan juga membahas hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan ranting dan sebagainya.


Dan tanggal 19 april 2016 kemarin yang bertempat di rumahnya bapak Deny Hendrawan Tendok Sari yang juga selaku pengurus LTN NU Ranting Tahunan, dalam rapatnya ada beberapa poin yang di hasilkan yaitu mengenai Pengumuman dan kegiatan acara Khoul massal yang akan di laksanakan pada hari jumat tanggal 22 april 2016 yang bertempat di gedung haji.

Selain itu ada juga perencanaan untuk mendirikan kantor Ranting desa Tahunan yang telah di setujui oleh seluruh anggota ranting, dan berdasarkan kesepakatan bersama akhirnya kantor NU Ranting Tahunan akan di tempatkan di jalan Soekarno Hatta yang mana dahulu adalah posko RT.04 RW.03 Tahunan, dan pada hari Sabtu tanggal 23 april 2016 akan di mulai pembersihan guna mendirikan kantor.

Tempat yang akan di jadikan kantor Ranting NU Tahunan
Dan info selanjutnya adalah mengenai seragam NU untuk anggota ranting telah tersedia dan bisa di ambil dengan mahar 75 ribu, silahkan hubungi panitia. Sekian info hasil rapat pada kali ini dan terima kasih.

Jumat, 25 Maret 2016

Pelatihan IT Harlah PC NU ke-93 Jepara

Pelatihan IT 26 maret 2016

Dalam rangka memeriahkan Harlah PC NU Jepara yang ke-93, maka pengurus PC NU mengadakan serangkaian kegiatan, yang jadwalnya sudah pernah kami pos kan sebelumnya di Rangkaian acara Harlah NU ke-93 Jepara.

Salah satu kegiatan tersebut yaitu Pelatihan cara membuat blog dan sekaligus lomba untuk blog terbaik, yang dilaksanakan pada hari ini, tanggal 26 - 27 maret 2016 dan bertempat di gedung PC NU lantai 2 Jepara, yang di meriahkan oleh Peserta dari beberapa utusan  MWC, beberapa perwakilan dari ranting desa, para pelajar atau santri, masyarakat umum, bahkan juga dari kepolisian dan TNI.

Dengan adanya pelatihan membuat blog ini, di harapkan NU dapat menguasai media internet dan membentengi umat dari konten-konten yang menyesatkan, seperti banyaknya aliran-aliran baru yang mengatas namakan  islam akan tetapi aqidah dan perbuatannya menyimpang dari Al-qur'an dan As-Sunnah, sungguh hal ini sangat meresahkan karena memang kenyataannya sekarang ini banyak aliran-aliran menyimpang yang menguasai mesin pencarian seperti google,yahoo dan lainnya.

Khoul Tokoh-tokoh NU desa Tahunan

Sore tadi, hari jumat tanggal 25 maret 2016, beberapa anggota pengurus ranting Nahdlatul Ulama desa Tahunan telah melaksanakan acara khoul untuk tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama desa setempat khususnya desa Tahunan, yang hal ini merupakan himbauan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara.


Adapun beberapa tokoh NU desa Tahunan yang kami ketahui dan para beliau ini adalah:
  • KH. Abu Syuja
  • KH. Ahmad Zawawi
  • Kyai Abdullah khadziq
  • KH. Asrori
  • KH. Amin Muhtarom
  • KH. Fahrur Rozi
  • KH. Fuadi Nur
  • KH. Khumaidi noor
  • KH. Ahmad Khudri
  • KH. Masyhudi Nadhif
Dan karena makam beliau-beliau ini terletak di beberapa desa, maka dari itu kami menyentralkan di satu tempat yaitu di depan makam KH. Ahmad Zawawi yang berada di pesarean Jati Sari Tahunan, yang mana acara tahlil di pimpin oleh Rois Kyai Nur Handy dan kemudian di lanjutkan doa oleh KH. Rohamin.

Dengan acara seperti ini di harapkan agar kita semua selalu ingat akan sejarah dan jasa-jasa mereka dalam mensejahterakan umat, khususnya di desa Tahunan.

Pelantikan Pengurus Ranting NU Tahunan Jepara

Pada hari selasa malam rabu tanggal 1 maret 2016 yang lalu, akhirnya pengurus ranting NU desa Tahunan telah resmi terbentuk lewat acara "Pelantikan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Tahunan masa khidmat 2015-2016" di masjid Masyarul Mujahidin Tahunan, oleh PCNU Kabupaten Jepara yang di wakili oleh ketua Tanfidziyah NU KH.Hayatun Nufus beserta jajarannya.

Beliau berpesan kepada segenap pengurus yang baru terbentuk ini agar semangat dan serius dalam kepengurusannya, NU harus bangkit dan menjaga umat dalam keselarasan hidup yang Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Sekarang ini banyak anak-anak yang tidak tahu apa itu NU? Apa peran NU? tetapi mereka menyatakan dirinya sebagai NU. Dan yang sangat meresahkan di jaman sekarang  ini adalah banyak aliran-aliran yang menyimpang dari aqidah, kemudian banyak juga anak-anak muda yang terjerumus dalam gaya hidup negatif seperti Narkoba, miras, sex bebas dan sebagainya. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan jika lingkungan kita, generasi muda kita, atau bahkan anak cucu kita terjerumus ke jalan itu, Naudzubillah min dzalik.

Maka dari itu, di sinilah peran NU untuk membentengi umat dengan akhlak yang Ahlussunnah Wal Jama'ah, dan hal ini bisa di mulai dengan menciptakan keamanan desa, menyelidiki kegiatan-kegiatan sosial, di masjid-masjid, mushola, sekolahan, gudang-gudang yang mencurigakan, seperti kemarin gudang di tahunan yang di jadikan sebagai penyimpanan sabu-sabu seberat 200kg, dan tempat-tempat lainnya. Dengan terbentuknya anggota pengurus yang aktif, amanah dan peduli terhadap masyarakatnya insya'Allah desa akan menjadi aman.

Dan berikut ini adalah susunan pengurus ranting NU desa Tahunan yang telah resmi terbentuk.

SUSUNAN PENGURUS RANTING NAHDLATUL ULAMA
DESA TAHUNAN, KECAMATAN TAHUNAN, KABUPATEN JEPARA
MASA KHIDMAH 2015-2020


SURIYAH
Rois                  : Kyai. Nur Handy (Kauman)  No.Hp 0813 2522 0258
Wakil Rois 1      : Kyai. Ahris Sufril Chilmi (Kauman)  No.Hp 0852 0049 9888
Wakil Rois 2      : Ahmad Zuhri (Gerjen Sari)
Katib                 : Nurika Rohman (Krajan)
Wakil Katib        : Ulil Absor (Tendok Sari)

A'WAN              : 1. KH. Ainur Rofiq (Kauman)
                          2. KH. Rohamin (Kauman)
                          3. KH. Syifaul Hafid, S.Pd.I (Wonosari)
                          4. Kyai. Ahmad Mahin (Bendan Sari)
                          5. Kyai Mustain (Tendok Sari)

PENGURUS TANFIDIYAH
Ketua                       : H. Mudzakir,S.Ag (Kauman)  No.Hp 081 2289 0132
Wakil Ketua 1           : Rahmat (Bendan Sari)
Wakil Ketua 2           : H. Suyono (Wonosari)
Wakil Ketua 3           : H. Muhlisin, S.Ag. (Kauman)
Sekretaris                 : Agus Ulinnuha (Kauman)
Wakil Sekretaris 1     : Afnanul Wafid (Kauman)  No.Hp 0812 2725 4606
Wakil Sekretaris 2     : Suwartoyo (Gerjen Sari)
Bendahara                : Ahmad Aniq (Kauman)
Wakil Bendahara       : Muhammad Zaim

LEMBAGA-LEMBAGA
  • LPMNU (Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama)
    1. Zaenuddin, S.Ag. (Wonosari)
    2. Ali Mansur (Tendok Sari)
    3. Drs. Nur Salim (Tendok Sari)
    4. Mat Yahya, S.Ag. (Kauman)
    5. Kusmiyoto Rohman, S.Pdi. (Randu sari)
  • LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama)
    1. Fathur Rohman (Wonosari)
    2. KH. Masyhadi (Bendan Sari)
    3. Ahmad Mu'arif (Gerjen Sari)
    4. KH. Noor Cholis (Krajan)
  • LPNU (Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama)
    1. H. Mohadi (Randu Sari)
    2. H. Abdul Rosyid (Kauman)
    3. Zainul Arifin (Kauman)
  • LBMNU (Lembaga Bahtsul Masa'il Nahdlatul Ulama)
    1. Ust. Nanang Ni'amillah (Kauman)
    2. Ust. Ali Rif'an (Kauman)
    3. Ust. Muhammad Bahauddin, S.H.i (Kauman)
    4. Ust. Muslih (Bendan Sari)
    5. Kyai Sumiat (Wonosari)
  • LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama)
    1. Zainuddin (Kauman)
    2. H. Ahmad Luthfi (Kauman)
    3. Zaenal Arifin (Gerjen Sari)
  • LTNNU (Lembaga Ta'lif Wan Natsr Nahdlatul Ulama)
    1. Firda Azhari, S,H. (Kauman)
    2. Muhammad Jalaludin (Kauman)
    3. Deny Hendrawan (Tendok Sari)
  • ISHARINU (Ikatan Seni Hadroh Indonesia Nahdlatul Ulama)
    1. Nor Jamal (Kauman)
    2. Sya'roni (Bendan Sari)

Jumat, 18 Maret 2016

Rangkaian acara Harlah NU ke-93 Jepara


Jumat, 26 Februari 2016
06.00
 Jalan Sehat Peringatan Harlah NU ke 93
KapanJum, 26 Februari, 06.00 – 17.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiJalan Sehat yang di ikuti oleh Forkopinda, Tamu Undangan, MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum.
Senin, 7 Maret 2016
08.00
 Penyuluhan Hukum
KapanSen, 7 Maret, 08.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiPenyuluhan Hukum/ Konsultasi Hukum / Narkoba /Miras / Oplosan/Judi Togel dll.
Sabtu, 12 Maret 2016
08.00
 Penyuluhan Reproduksi dan perkembangbiakan sapi
KapanSab, 12 Maret, 08.00 – 13.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiPenyuluhan Reproduksi dan perkembangbiakan sapi untuk MWC, Ranting, Pontren, Masjid, Musholla.
Minggu, 13 Maret 2016
08.00
 Pelatihan pembuatan pakan Fermentasi
KapanMin, 13 Maret, 08.00 – 13.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiPelatihan pembuatan pakan Fermentasi untuk MWC, Ranting, Pontren, Masjid, Musholla.
08.30
 SEMINAR NASIONAL dalam rangka HARLAH NU ke-93
KapanMin, 13 Maret, 08.30 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiSeminar Nasional Islam Nusantara dengan tema "Konsepsi dan Aplikasinya dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaaan di indoonesia. Nara Sumber : 1. KH Aniq Muhammadun , 2. Dr Rumadi Ahmad MA.
Sabtu, 19 Maret 2016
08.00
 Sosialisasi serikat buruh di kawasan industri Jepara
KapanSab, 19 Maret, 08.00 – 13.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiSosialisasi serikat buruh di kawasan industri Jepara.
Minggu, 20 Maret 2016
08.00
 Pembentukan serikat buruh NU/ Pelatihan organisasi serikat buruh
KapanMin, 20 Maret, 08.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiPembentukan serikat buruh NU/ Pelatihan organisasi serikat buruh.
Rabu, 23 Maret 2016
08.00
 Klinik konsultasi bisnis / Wirausaha
KapanRab, 23 Maret, 08.00 – Kam, 24 Maret, 18.00
DeskripsiKlinik konsultasi bisnis / Wirausaha bagi MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum Persyaratan Peserta : 1. Mendaftarkan diri 2. Mengirimkan Peserta 2 orang.
08.00
 Lomba menulis Santri
KapanRab, 23 Maret, 08.00 – 13.00
Di manaLomba menulis Santri.
DeskripsiLomba menulis Santri untuk MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pondok pesantren.
Kamis, 24 Maret 2016
» 18.00
 Klinik konsultasi bisnis / Wirausaha
KapanRab, 23 Maret, 08.00 – Kam, 24 Maret, 18.00
DeskripsiKlinik konsultasi bisnis / Wirausaha bagi MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum Persyaratan Peserta : 1. Mendaftarkan diri 2. Mengirimkan Peserta 2 orang.
08.00
 Lomba Membaca Kitab kuning
KapanKam, 24 Maret, 08.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiLomba Membaca Kitab kuning bagi MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pontren.
Jumat, 25 Maret 2016
06.00
 Bersih Pantai
KapanJum, 25 Maret, 06.00 – 10.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiBersih Pantai besama Forkopinda, MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum.
Sabtu, 26 Maret 2016
08.00
 Lomba menulis pertanian organik dan Beternak sehat
KapanSab, 26 Maret, 08.00 – 13.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiLomba menulis pertanian organik dan Beternak sehat untuk MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum.
08.00
 Pelatihan membuat blog untuk santri/Pelatihan IT Muslimat
KapanSab, 26 Maret, 08.00 – 13.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiPelatihan membuat blog untuk santri/Pelatihan IT Muslimat.
Minggu, 27 Maret 2016
08.00
 Potensi desa / Ranting unggulan dan lomba blog materi desa
KapanMin, 27 Maret, 08.00 – 13.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiPotensi desa / Ranting unggulan dan lomba blog materi desa.
Senin, 28 Maret 2016
08.00
 Lailatul Hadroh / Parade Rebana
KapanSen, 28 Maret, 08.00 – Sel, 29 Maret, 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiLailatul Hadroh / Parade Rebana yang di selenggarakan oleh ISHARI.
Selasa, 29 Maret 2016
» 12.00
 Lailatul Hadroh / Parade Rebana
KapanSen, 28 Maret, 08.00 – Sel, 29 Maret, 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiLailatul Hadroh / Parade Rebana yang di selenggarakan oleh ISHARI.
08.00
 Lomba puisi tingkat Ponpes dan Pelajar
KapanSel, 29 Maret, 08.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiLomba puisi tingkat Ponpes dan Pelajar.
Rabu, 30 Maret 2016
08.00
 Lomba Da’i 3 kategori : Pelajar, mahasiswa, santri
KapanRab, 30 Maret, 08.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiLomba Da’i 3 kategori : Pelajar, mahasiswa, santri.
Kamis, 31 Maret 2016
08.00
 Drama Qoshoshul Qur’an
KapanKam, 31 Maret, 08.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiDrama Qoshoshul Qur’an untuk MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pontren, Masjid,Musholla.
Minggu, 17 April 2016
08.00
 Sarasehan Harlah IPNU-IPPNU
KapanMin, 17 April, 08.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiSarasehan Harlah IPNU-IPPNU( Pertemuan Majlis Alumni ), Sosialisasi Pembina IPNU.
Jumat, 22 April 2016
08.00
 Klinik konsultasi bisnis / Wirausaha
KapanJum, 22 April, 08.00 – Sab, 23 April, 05.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiKlinik konsultasi bisnis / Wirausaha untuk MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum.
14.00
 Bazar dan Bakti sosial
KapanJum, 22 April, 14.00 – Sab, 23 April, 11.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiBazar dan Bakti sosial untuk Forkopinda, Tamu Undangan, MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum.
Sabtu, 23 April 2016
» 05.00
 Klinik konsultasi bisnis / Wirausaha
KapanJum, 22 April, 08.00 – Sab, 23 April, 05.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia 
DeskripsiKlinik konsultasi bisnis / Wirausaha untuk MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum.
» 11.00
 Bazar dan Bakti sosial
KapanJum, 22 April, 14.00 – Sab, 23 April, 11.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiBazar dan Bakti sosial untuk Forkopinda, Tamu Undangan, MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum.
Minggu, 24 April 2016
06.00
 Lomba Karnaval Persada Budaya Nusantara
KapanMin, 24 April, 06.00 – 12.00
Di manaGedung NU Cabang Jepara, No. 51,, Jl. Pemuda, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59412, Indonesia.
DeskripsiLomba Karnaval Persada Budaya Nusantara (Drumband, Group Rebana, Group MOGE, MWC, Ranting, Sekolah, Madrasah, Pergunu, Pontren, Masjid, Musholla, Masyarakat Umum).


Sumber dari web NU Jepara

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Page views